Surat 2026

Apakah Yang Kamu Cari?

Bruder Matthew
Taizé

Begitu banyak orang mencari makna dalam hidup mereka. Mereka mencari sesuatu yang lebih besar daripada janji-janji mudah yang begitu sering memenuhi layar kita. Bukankah manusia diciptakan untuk suatu tujuan yang sejati? Apa yang dapat memampukan kita untuk menemukannya?

Ketika kita berusaha hidup dari kepercayaan iman, kita terkadang bertanya pada diri sendiri: Apakah yang Allah kehendaki dariku? Kita memiliki begitu banyak keinginan. Jalan manakah yang dapat kutempuh bersama Allah?

Selama setahun terakhir, di Taizé, kami menerima kunjungan dari kaum muda yang berasal dari Ukraina, Palestina, Lebanon, Nikaragua, Myanmar, dan tempat-tempat lain yang dilanda perang dan konflik. Iman dan kerinduan mereka akan perdamaian yang adil dan berkelanjutan menjadi sumber inspirasi bagi kami. Kami juga mendengarkan kesaksian orang-orang yang bekerja di Gaza atau yang keluarganya tinggal di sana. Kami menyaksikan penderitaan mereka yang orang-orang terkasihnya ditahan sebagai sandera dan kami juga mendengar jeritan mereka yang mencari keadilan di bawah rezim yang menindas.

Saya juga meluangkan waktu bersama para bruder komunitas Taizé yang tinggal dalam kelompok kecil (fraternity) di Brasil dan Kuba. Brasil masih dibayangi warisan perbudakan dan ketimpangan yang besar. Namun, ada orang-orang yang menolak untuk menyerah; mereka berjuang untuk berpihak pada kaum termiskin. Secara khusus saya memikirkan sebuah komunitas di kota Salvador, di mana para tunawisma tidur di gereja dan saling membantu.

Di Kuba, saya menyaksikan bangsa yang berani menghadapi berbagai kesulitan yang sangat besar. Saya bertemu seorang nenek yang memberikan seluruh tabungannya agar cucunya memiliki apa yang ia perlukan untuk memulai tahun ajaran baru. Ibunya, seperti banyak warga Kuba lainnya, telah meninggalkan negara itu sebagai migran demi mencari masa depan yang lebih baik.

Di banyak tempat, orang bertanya-tanya: Bagaimana aku dapat menggunakan kebebasan yang telah diberikan kepadaku untuk mengekspresikan solidaritas dengan mereka yang menderita? Mereka mencari cara agar kerinduan mereka untuk mengasihi dan peduli menjadi nyata, sehingga hidup mereka bermakna melalui membantu dan melayani.

Dunia kita memiliki begitu banyak keindahan, tetapi juga begitu banyak ketidakadilan. Di manakah tempatku di tengah semua ini? Apa yang diharapkan dariku? Pertanyaan inilah yang sering saya rasakan di dalam hati, ketika menghadapi kompleksitas hidup dan pilihan-pilihan yang ada di hadapan saya.

Dalam Injil Yohanes, kata-kata pertama Yesus adalah, “Apakah yang kamu cari?” Saya membagikan pertanyaan ini kepada enam relawan muda di Taizé. Mereka berasal dari enam negara berbeda yang tersebar di empat benua. Paparan berikut ini terinspirasi dari apa yang mereka sampaikan kepada saya.

Kepada mereka dan kepada semua relawan yang membantu menyelenggarakan pertemuan-pertemuan di Taizé, yang meluangkan waktu bersama komunitas kami untuk berdoa dan memahami lebih dalam panggilan Kristus dalam hidup mereka, saya mengucapkan terima kasih.

Bruder Matthew

 

Mencari keheningan

Setelah satu minggu di Taizé, ketika ditanya apa yang paling penting bagi mereka, banyak kaum muda berbicara tentang pengalaman keheningan. Di dunia yang tingkat keterhubungannya sangat tinggi (hyperconnected) dan terus bergerak, hal ini mungkin terasa mengejutkan.

Ketika kita meluangkan waktu dan memutuskan diri dari arus masuk yang tiada henti, sering kali justru dalam keheninganlah kita sungguh-sungguh berjumpa dengan diri kita sendiri dan juga sekilas menangkap kenyataan yang lebih besar.

Ciptaan Tuhan yang indah, suara angin, gemericik sungai, dan kicauan burung dapat merangkul dan menuntun kita menuju keheningan batin, tempat persekutuan dengan segala yang ada menjadi nyata. Malam yang bertabur bintang dapat memenuhi kita dengan rasa kagum.*

Yesus memasuki dunia dalam keheningan*: “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.”* Dia yang bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah, sebelum permulaan segala sesuatu, datang untuk menyertai kita melalui kelahiran yang rendah hati dalam keheningan malam*: terang yang bercahaya di dalam kegelapan.

Demikianlah, keheningan ini bukanlah kekosongan. Ia menjadi tempat perjumpaan. Dalam keheningan kita tidak sendirian. Namun kita bergumul dengannya karena pikiran kita dipenuhi oleh begitu banyak hal. Seperti tertulis dalam Pedoman hidup Taizé (Rule of Taizé): “Jika perhatianmu teralihkan, kembalilah kepada doa segera setelah engkau menyadari gangguan itu, tanpa meratapinya.”*

Berabad-abad yang lalu, seseorang berdoa: “Hatiku berkata tentang Engkau: ‘Carilah wajah-Ku!’ Wajah-Mu, ya Tuhan, akan kucari.”* Dalam keheningan hati kita, maukah kita kembali lagi dan lagi untuk mencari Tuhan?

Doa sering kali pertama-tama adalah sebuah kerinduan*, suatu hasrat sunyi akan damai di hadirat Allah. Ketika kita tidak tahu bagaimana berdoa, Roh Kudus hadir dan berdoa di dalam kita dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan.* Saat kita mendengarkan bagian terdalam dari hati kita, kita dapat menyadari bahwa di sanalah Roh Kudus berdiam. Saya berhadapan dengan diri saya sendiri dan dengan Tuhan yang bernafas di dalam diri saya.

Allah yang hidup, ajarilah aku mencari Engkau dalam keheningan hatiku, dalam keindahan ciptaan, dalam mendengarkan Firman-Mu, dalam menyambut kehadiran-Mu yang rendah hati.

Dapatkah kita berkomitmen untuk meluangkan waktu setiap hari untuk diam dan masuk ke dalam hadirat Tuhan? Mungkin kita bisa memulainya dengan lima menit saja. Mulailah dengan membaca satu bagian singkat dari Alkitab, atau mengucap syukur atas apa yang telah diterima sepanjang hari; atau sekadar meluangkan waktu untuk “hadir”.

 

Mencari arah

Keheningan memungkinkan penegasan batin (discernment) yang sejati. Ketika kita mencari arah yang harus ditempuh, keheningan memungkinkan kita mendengarkan apa yang paling dalam di dalam diri kita. Kita juga membutuhkan kebebasan batin agar dapat membuat pilihan yang bertanggung jawab. Kebebasan semacam ini melibatkan penerimaan akan keterbatasan kita, namun tanpa rasa takut: rasa takut bukanlah penasihat yang baik, dan Allah tidak pernah memaksa hati kita.

Setiap orang mencari baik rasa memiliki maupun keamanan. Dan ketika kita mencari cara hidup yang autentik, terkadang justru orang lain yang membantu kita menemukan siapa diri kita sesungguhnya. Melalui orang lain, kita bisa terkejut menemukan sesuatu yang tidak mungkin kita temukan sendirian.

Dalam Injil Yohanes, dua orang muda tinggal di lembah Yordan bersama guru mereka, Yohanes Pembaptis, yang mereka percayai. Yohanes Pembaptis tidak ingin menahan mereka untuk dirinya sendiri. Ia justru menunjukkan mereka kepada yang lain, kepada Yesus. Dan mereka pun pergi mengikuti-Nya.

Ketika Yesus melihat mereka, Ia bertanya, “Apakah yang kamu cari?” Ketika mereka menjawab, “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.”*

Kedua pertanyaan tersebut merangkum proses mencari dan menemukan arah hidup bersama Kristus. Dimulai dari keinginan kita sendiri, dari ungkapan kerinduan kita akan hidup yang lebih penuh — “Apakah yang kamu cari?” — lalu kita menghadapkannya dengan pribadi Yesus — “Rabi, di manakah Engkau tinggal?”

Yesus yang mengundang kita untuk “datang dan melihat” adalah Pribadi yang lemah lembut dan rendah hati, dan Ia mengasihi kita dengan kasih yang tanpa syarat, pasti, dan tak pernah gagal. Akankah aku berani menanggapi undangan-Nya meskipun aku ragu dan bahkan bimbang?

Kristus Yesus, tunjukkanlah kepadaku jalan dan buatlah aku siap untuk mengikutinya.*

Siapakah orang-orang yang menuntunku kepada Kristus? Luangkan waktu sejenak untuk mengucap syukur atas mereka.

 

Mencari sukacita

Salah seorang relawan laki-laki di Taizé berkata kepada saya: “Di negaraku, kaum muda berusaha bertahan hidup di dunia yang menawarkan segalanya; tetapi di dalam relung hati mereka, justru rasa takut, kecemasan, dan depresi yang mendominasi.”

Kita dikelilingi oleh janji-janji kebahagiaan. Namun, begitu banyak di antaranya gagal membawa sukacita yang bertahan lama, dan hanya memberikan kesenangan sesaat.

Sukacita muncul dari kedalaman batin ketika kita menyadari bahwa kita dikasihi apa adanya. Ketika kita memahami bahwa sukacita adalah anugerah dan bukan sesuatu yang dapat kita tuntut, kita menjadi siap untuk menyambutnya. Kita tidak lagi berusaha memaksakannya, dan dengan ringan kita dibawa maju.

Yesus diundang bersama sahabat-sahabat-Nya ke sebuah pesta pernikahan*, dan setelah beberapa waktu, anggur pun habis. Pada saat itu, ada kekurangan: Yesus berada di tengah-tengah mereka yang miskin. Dalam kemiskinan mereka, Ia hadir dan menemui mereka. Ia memberikan lebih dari apa yang mereka harapkan. Yang Ia kehendaki bagi mereka adalah sukacita, dan Ia melakukan segalanya agar hal itu menjadi mungkin.*

Saya teringat, dahulu ketika saya berada di Kolkata, di rumah induk Misionaris Cinta Kasih. Di dinding terdapat sebuah kutipan dari Bunda Teresa yang mengingatkan saya bahwa Tuhan menerima kita dengan segala kerapuhan kita dan tidak menuntut kita untuk sempurna. Kita tidak harus selalu kuat.

Kemiskinan batin kita dapat membuat kita khawatir bahwa kita tidak cukup baik. Hal ini sering mendorong kita untuk menyamarkan siapa diri kita sebenarnya. Namun, jika kita mengizinkan diri kita berdiri dengan tangan kosong di hadapan Kristus, Ia datang untuk mengisinya, mengubah kemiskinan itu sedikit demi sedikit.

Bahkan ketika kita merasa sedih dan sukacita tampak jauh, kita dapat mengingat bagaimana Yesus berbicara tentang sukacita yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun.*

Allah yang penuh belas kasih, kami ingin menyambut sukacita-Mu dalam situasi apa pun. Ketika kami memahami bahwa Engkau mengasihi kami dan membuka bagi kami jalan menuju hidup yang tak berkesudahan, sukacita memancar dari kedalaman diri kami.

Renungkan apa yang dapat kita lakukan untuk membawa sukacita bagi orang lain. Temui seseorang secara langsung, bukan hanya secara virtual. Terkadang, dalam pelayanan sederhana yang diberikan dengan cuma-cuma kepada orang lain, saya menerima jauh lebih banyak daripada yang saya bayangkan, terutama ketika saya melihat sukacita di wajah mereka yang saya layani.

 

Mencari makna

Di dalam setiap diri kita terdapat dahaga akan makna. Di manakah dahaga ini dapat dipuaskan? Dalam kesibukan hidup kita, di suatu tempat di dalam diri kita ada suara lembut yang berbisik bahwa kita dikasihi.

Seorang pemimpin bernama Nikodemus*, yang mencari makna sejati dalam hidupnya, mendengar tentang Yesus. Ia datang pada malam hari untuk menemui-Nya dan mencari cara untuk mengungkapkan isi hatinya.

Pertanyaan-pertanyaan terdalam kita tentang iman, hidup dan mati, makna dan tujuan sering kali tetap tidak terucapkan. Namun, selama pertanyaan-pertanyaan itu belum diungkapkan, ada sesuatu dalam diri kita yang belum terpenuhi, seperti yang dialami Nikodemus.

Saat kita mencari, akankah kita mengikuti pertanyaan-pertanyaan kita sampai membawa kita kepada sumber kehidupan? Kita mungkin tidak menemukan semua jawaban; tetapi ketika kita berani mengikuti Kristus, kita dapat sampai pada titik di mana kita harus mempercayakan diri kita kepada Allah dengan kepercayaan yang jernih (a lucid trust)*. Di sanalah kita menemukan kasih dan kebaikan Allah yang merangkul kita.

Makna hidup Yesus bukanlah untuk menghakimi umat manusia, melainkan untuk memungkinkan setiap manusia memahami bahwa mereka dikasihi oleh Allah. Ia datang untuk menunjukkan jalan menuju kasih yang semakin besar. Itulah rahasia-Nya.

Nikodemus mendekati terang selangkah demi selangkah. Satu atau dua tahun setelah perjumpaannya dengan Yesus pada malam hari, ia secara terbuka membela Yesus di hadapan para pemimpin di Yerusalem.* Beberapa bulan kemudian, ketika Yesus digantung di salib, ia menunjukkan keberanian besar.* Ia berani menjadi bagian dari kelompok sahabat Yesus. Keberaniannya membawanya masuk ke dalam komunitas.

Tuntunlah aku, terang yang lembut, di tengah kegelapan yang melingkupi, tuntunlah aku… Aku tidak meminta melihat gambaran yang jauh; satu langkah saja sudah cukup bagiku.*

Cobalah mengadakan sebuah pertemuan di mana setiap orang berbicara tentang bagaimana mereka menemukan makna dalam hidup. Bagi sebagian orang, hal itu berasal dari iman; bagi yang lain melalui tindakan; yang lain mungkin memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Berbagi dan mendengarkan dengan penuh perhatian dapat menjadi cara untuk saling menguatkan.

 

Mencari dunia yang adil

Ketidakadilan — baik dalam bentuk kerusakan ekologis*, ketimpangan, kekerasan, penindasan, atau perang — menyulut berbagai emosi: kemarahan, kesedihan, bahkan keputusasaan. Namun, ketika kita memutuskan untuk melawannya, bukankah ada bahaya bahwa kita terjebak dalam pendapat kita sendiri hingga tidak lagi melihat melampauinya?* Bahkan, ada risiko kita menjadi tawanan algoritma (sistem berpikir) kita sendiri dan terjebak dalam polarisasi yang mengancam masyarakat kita.

Marilah kita melangkah keluar dari “kotak” kita sendiri dan membiarkan sudut pandang yang berbeda menantang kita, bahkan ketika mustahil untuk sepakat.

Terkadang kita perlu siap memegang kenyataan yang kompleks secara bersamaan, ketika tidak ada solusi yang tampak mungkin*. Mendengarkan kisah dari berbagai sisi bisa terasa sangat berat, tetapi tidak mendengarkannya adalah ketidakadilan.

Setelah doa malam di gereja di Taizé, seorang wanita muda berkata kepada saya: “Saya harus mengakui kekerasan yang ada dalam diri saya, tetapi juga harus menerimanya bersamaan dengan kebutuhan saya akan kontemplasi.” Saya merasa ini sangat membebaskan. Alih-alih menekan perasaan itu, atau berpura-pura itu tidak ada, dia menempatkannya bersamaan dengan dahaganya akan Allah.

Ada bahaya bahwa kekuatan destruktif yang ada di dalam diri kita masing-masing dapat menguasai kita. Sangat mudah untuk menjelek-jelekkan orang, bahkan seluruh bangsa. Kemudian kita berisiko terseret ke dalam spiral kekerasan dan melanggengkannya. Kontemplasi – doa – membuka kita ke dimensi lain, menuntun kita untuk berdamai dengan apa yang kita bawa di dalam diri kita dan menemukan cara untuk membangun jembatan.

Roh Kudus hadir untuk menuntun kita di jalan di mana kita dapat mengambil keputusan yang berani. Bruder Roger, yang memulai kehidupan komunitas kami di Taizé, berbicara tentang kekerasan kreatif dari para pembawa damai* yang memungkinkan mereka tidak menyerah pada godaan meninggalkan jalan Injil.

Yesus mewujudkan dunia yang berkeadilan dan relasi yang benar, yang oleh Injil disebut Kerajaan Allah. Namun, Ia juga marah dan membalikkan meja-meja para pedagang dan penukar uang di Bait Suci untuk memberi tempat bagi Allah.* Yesus dengan tegas mengecam kemunafikan religius, tetapi Ia juga mampu menyambut seorang pemimpin agama seperti Nikodemus. Ia akrab dengan orang-orang Farisi dan menerima keramahan mereka*, tetapi Ia juga makan bersama orang-orang yang disingkirkan oleh masyarakat. Ia memiliki kasih yang tak pernah pudar bagi domba-domba yang hilang dari umat Israel*, tetapi Ia juga mengagumi iman seorang perwira Romawi dan menyembuhkan anaknya*; dan Ia membiarkan diri-Nya ditantang oleh iman seorang perempuan kafir yang Ia temui dalam perjalanan di luar wilayah Israel.*

Dengan berani mengambil risiko membangun relasi dengan orang-orang yang berbeda*, Yesus menumbuhkan kepercayaan dan mewujudkan kuasa Allah yang mendamaikan.

Jika kita tahu bahwa terang bersinar dalam kegelapan dan bahwa, melalui sikap-sikap sederhana kebaikan manusiawi, kasih Allah dapat menang, maka kita dibebaskan untuk bertindak.

Kristus Yesus, dalam hidup-Mu di bumi, Engkau tidak ragu untuk mengecam ketidakadilan, tetapi Engkau berusaha membangun jembatan dengan orang-orang yang Engkau temui di jalan-Mu. Tingkatkanlah dahaga kami untuk menjembatani berbagai perpecahan yang memisahkan manusia dan bangsa-bangsa, agar keadilan dapat berkembang di bumi.

Langkah-langkah konkret apa yang bisa kita ambil untuk membangun jembatan di mana terjadi perpecahan? Sulit bagi satu orang untuk bertindak sendiri. Berdiskusilah bersama orang lain; gabungkan ide-ide; bersama-sama, jangkaulah mereka yang berada di pinggiran masyarakat. Apa artinya mendengarkan orang-orang dengan pendapat yang berbeda dari kita, memahami ketakutan mereka, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai Injil yang kita yakini?

 

Mencari komunitas

Salah seorang relawan perempuan di Taizé berkata kepada saya: “Aku ingin hidup sesuai dengan nilai-nilaiku dan nilai-nilai Injil. Ketika aku mengambil keputusan, aku bertanya: apakah ini dapat diterima oleh orang lain, oleh bumi, dan oleh diriku sendiri? Kita ingin membangun dunia yang lebih baik.”

Berkomunitas dengan sesama, dengan ciptaan, dengan Allah – setelah masa isolasi akibat pandemi, apakah kita siap membangun kembali dunia komunitas*, dunia yang peduli*? Segala sesuatu saling terhubung; kita semua saling menjadi bagian dalam rumah bersama kita, ciptaan yang telah dianugerahkan kepada kita.

Di Kayu Salib, komunitas Yesus hancur berantakan. Yudas mengkhianati-Nya. Petrus menyangkal-Nya. Sebagian besar sahabat-Nya melarikan diri. Semua karya Yesus untuk membangun kehidupan dalam persekutuan penuh kasih, untuk menyambut semua orang, seolah-olah telah berakhir. Ia telah mengambil risiko dengan siap menyerahkan nyawa-Nya bahkan bagi mereka yang menolak-Nya. Namun, pada saat yang paling gelap, komunitas lahir kembali di kaki Salib.*

Menurut Injil Yohanes, empat perempuan dan satu laki-laki tetap bersama Yesus sampai akhir. Tanpa kata, mereka hanya hadir di sana. Mereka menjadi saksi bagi persekutuan yang terus diciptakan Yesus, bahkan ketika segala sesuatu tampak mustahil.

Permusuhan dan penolakan menghancurkan persekutuan manusia. Di Kayu Salib, Yesus menanggung permusuhan dan penolakan itu, membangun kembali persekutuan bahkan pada saat penderitaan yang paling berat.*

Di Kayu Salib, Yesus menyerahkan murid yang Ia kasihi kepada ibu-Nya sebagai anak, dan murid itu, mewakili semua murid yang dikasihi Yesus di masa depan, menerima ibu-Nya ke dalam rumahnya. Terbentuklah sebuah keluarga baru: komunitas orang-orang percaya kepada Yesus, Gereja – lahir bukan secara manusiawi dari kemenangan atau kejayaan, tetapi dari kasih yang lebih besar daripada keheningan bisu penderitaan. Siapakah yang bisa dikecualikan dari persekutuan semacam itu?*

Di dalam Gereja, kita dipanggil untuk berdiri bersama mereka yang menderita, bersama para korban ketidakadilan.* Kita semua adalah manusia, dipanggil untuk saling menerima satu sama lain dengan adil dan benar, di mana kebebasan dan integritas setiap orang dihormati.

Yesus menyelesaikan karya-Nya ketika Ia wafat pada malam Sabat, hari ketujuh dalam minggu itu*, sama seperti Allah menyelesaikan karya penciptaan pada hari ketujuh setelah melihat bahwa segala sesuatu “sangat baik”.* Hadiah yang Yesus berikan melalui hidup-Nya di Kayu Salib adalah permulaan dari ciptaan baru. Ia mati dengan cara yang kejam – tetapi “aliran air hidup”* mengalir dari tubuh-Nya*, air yang tidak lain adalah Roh Kudus yang memperbarui muka bumi.

Tubuh Yesus diletakkan di sebuah kubur baru di sebuah taman — taman yang kelak bumi kita dipanggil untuk menjadi.* Dan dalam keheningan hari ketujuh yang menyusul, ciptaan yang terluka, di mana kita adalah bagiannya dan yang sekaligus dipercayakan kepada perawatan kita, memulai transfigurasi rahasianya.

Kristus Yesus, Engkau memberikan hidup-Mu bagi setiap orang, dan Engkau menunjukkan kepada kami sejauh mana Engkau bersedia berkomitmen kepada kami. Semoga kami berdiri di kaki Salib-Mu bersama bunda-Mu Maria dan murid yang Engkau kasihi, dan menyambut apa yang Engkau sampaikan kepada kami.

Dengan siapa kita dipanggil untuk berdiri? Bagaimana kita mengalami komunitas? Para mahasiswa bisa tinggal bersama dalam satu rumah, berdoa, dan makan bersama, terutama dengan mahasiswa dari luar negeri; yang lain bertemu seminggu sekali di rumah seseorang. Menyambut mereka yang merasa terpinggirkan, mengatasi rasa ketidakadilan dengan cara yang sederhana.

 

Mencari damai

Kita merindukan damai — damai batin dan damai di dunia yang begitu dikasihi Allah. “Mulailah karya damai di dalam dirimu sendiri, sehingga setelah engkau mengalami kedamaian, engkau dapat membawa damai kepada orang lain,”* kata orang beriman yang hidup di abad keempat.

Saat Yesus bertemu dengan Maria Magdalena di taman pada pagi Paskah, Ia bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?”* Air matanya berubah menjadi sukacita ketika ia menyadari bahwa Dia yang sangat dirindukannya tidak dikalahkan oleh maut. Lalu Yesus mengutusnya untuk membagikan apa yang telah ia lihat dan dengar kepada sahabat-sahabat-Nya yang lain.

Tak lama kemudian, ketika Yesus menemui mereka yang masih diliputi ketakutan, kata-kata pertama-Nya adalah, “Damai sejahtera bagi kamu!”* Dengan masuk ke dalam ketakutan mereka, Ia membuka hati mereka kepada damai yang berasal dari kehadiran-Nya. Dengan menghembusi mereka Roh Kudus, Ia memberikan kepada mereka tanggung jawab untuk melanjutkan karya pendamaian-Nya.

Damai yang telah Yesus janjikan kepada mereka sebelum wafat-Nya—“damai sejahtera yang tidak dapat diberikan oleh dunia”*—jauh lebih dari sekadar ketiadaan konflik. Dalam Alkitab, istilah shalom mencakup makna pemulihan dan keutuhan. Inilah damai sejahtera Allah yang dipercayakan kepada kita agar kita pelihara dan kembangkan.

Ketika kita menolong sesama menemukan kebebasan dan damai sejahtera yang ditawarkan kepada mereka, ketika kita melakukan apa yang kita bisa untuk meruntuhkan penghalang-penghalang permusuhan atau tembok-tembok yang membelenggu mereka, pada saat itulah kita mengambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri. Bukankah kita sedang berjalan di jalan yang sama ketika kita memandang ciptaan dengan rasa kagum dan syukur serta menunjukkan kepedulian kita terhadapnya?

Kita semua butuh diliputi damai sejahtera yang dijanjikan Kristus yang Bangkit kepada setiap orang. Dengan cara inilah kita dapat berjalan bersama dan saling menemani, menabur harapan* selangkah demi selangkah. Akankah kita berusaha menjadi tanda-tanda rekonsiliasi, peziarah-peziarah perdamaian, masing-masing dengan cara kita sendiri, di mana pun Allah menempatkan kita, bahkan melalui tindakan-tindakan yang paling sederhana sekalipun?

Dengarkanlah suara mereka yang menderita akibat konflik mematikan atau akibat kekerasan yang terjadi dalam masyarakat kita. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan menjaga kontak dengan orang-orang yang tinggal di zona perang. Dukunglah mereka yang berjuang untuk keadilan di negara-negara dengan rezim yang menindas atau dengan pemerintahan yang mempromosikan perang. Apakah ada di antara mereka yang bersedia untuk membagikan kesaksian? Siapkanlah doa bersama untuk perdamaian dan bagikanlah beberapa kesaksian tersebut. Dengarkanlah apa yang Roh Kudus katakan kepada kita hari ini.

Berkatilah kami, ya Allah yang penuh kasih. Melalui Roh Kudus, bimbinglah selalu langkah-langkah kami saat kami berjalan bersama Kristus yang Bangkit. Semoga kami berusaha menjadi peziarah pengharapan, peziarah perdamaian.

 

lettre2026_id
PDF

發佈於 6 Feb 2026